Rabu, 19 September 2012

Time Machine lyric by SNSD (English/Romanization/Indonesian)


Japanese version:
 
[Jessica] Itsumo yori sukoshi hiroi heya tada hitori
It’s over, guess it’s over
[Taeyeon] Futari de tsukuri ageta sutori mo munashiku
Konnani kantan ni kuzurete shimau nante
[Sunny] One mistake, got a one regret
[Seohyun] Dare mo kanpeki jyanaitte
[Sunny] Sou ii kikasetemitemo
[Seohyun] Nani o shitemo kizu wa iyasenakute

[All] Ima Time Machine ni norikonde
[Taeyeon] Anata ni ai ni iku koto ga dekita nara
[All] Mou nanimo negawanai
[Taeyeon] Hakakute tooi kioku ni naru mae ni
[Jessica] I need a time machine oh
[Tiffany] I need a time machine oh

[Jessica] Hitori de sugosu jikan wa ososugite
[Taeyeon] I am machi no batsu wa amari ni mo omoku
[Jessica] Anata ga saigo ni nokoshita words
[Taeyeon] Ima demo zutto rifurein tomaranai mada mune ga itamu
[Sunny] Just one mistake, just one regret
[Seohyun] Wagamama mo ima wa itoshikute

[All] Ima Time machine ni norikonde
[Taeyeon] Anata ni ai ni iku koto ga dekita nara
[All] Mou nanimo negawanai
[Sunny] Hakakute tooi kioku ni naru mae ni
[Jessica] I need a time machine

[Tiffany] Jikuu tobikoete anata ni aetera
[All] Tatoe onaji
[Taeyeon] Ketsumatsu mukaeta toshitemo kitto
[All] Kui wa nokoranai wazu dakara

[All] Ima Time machine ni norikonde
[Taeyeon] Anata ni ai ni iku koto ga dekita nara
[All] Mou nanimo negawanai
[Sunny] Hakakute tooi kioku ni naru mae ni
[Taeyeon] Yeah futari no omoida wasurete shimau mae ni
[Tiffany] Gimme a time machine
[Jessica] Oh Gimme a time machine
[Sunny] Oh Gimme a time machine

English version: 

Alone in the room that is more spacious than usual
It’s over, guess it’s over
The story created by the two of us was also in vain
I can't believe it could crumble so easily

One mistake, got a one regret
Nobody is perfect
Even if I try to say and hear it
The pain won't heal no matter what

Right now, if I could ride a time machine
and go to meet you
I wouldn’t wish for anything else
Before the memories become distant and fleeting...
I need a time machine oh
I need a time machine oh

Time slows to a crawl when I’m by myself
The punishment for my mistake is severe
The last words that you left behind
Even now, I can't stop [re-playing] the refrain
My heart still hurts

Just one mistake, just one regret
Even now, I still love you selfishly

Right now, if I could ride a time machine
and go to meet you
I wouldn’t wish for anything else
Before the memories become distant and fleeting...
I need a time machine

Indonesian version:
[Jessica]Sendirian di ruang ini tak seperti biasanya
It's over, kurasa it's over
[Taeyeon]Cerita yang kita buat jadi sia sia begitu saja
hubungan kita hancur dengan begitu mudahnya

[Sunny]One mistake, got a one regret
[Seohyun]tak ada satu manusia yang sempurna
[Sunny]walau kucoba mengatakannya
[Seohyun]apa yang kuperbuat, luka ini tak akan sembuh..

[All]Bila mesin waktu bisa kutemukan
[Taeyeon] aku nanti ingin sekali
[Seohyun]bertemu dengan kamu lagi
[All] aku takkan meminta lebih
[Sunny] sebelum semua menjadi sekilas memory
[Jessica] ku butuh mesin waktu
[Tiffany] ku butuh mesin waktu

[Jessica] Waktu yang kulalui sendiri terasa lambat
[Taeyeon] Hukuman yang kuhadapi ini terlalu berat bagiku
[Jessica] Terakhir kali kau mengucapkan kata
[Taeyeon] Dan sampai sekarang itu terngiang
Hatiku ini masih sakit

[Sunny] Just one mistake, just one regret
[Seohyun] Meski ku egois itu karena ku cinta kau

[All]Bila mesin waktu bisa kutemukan
[Taeyeon] aku nanti ingin sekali
[Seohyun] bertemu dengan kamu lagi
[All] aku takkan meminta lebih
[Sunny] sebelum semua menjadi sekilas memory
[Jessica] ku butuh mesin waktu

[Tiffany] Jika aku bisa melintasi waktu dan angkasa
[All/Sooyoung] ku ingin menjumpaimu
[Seohyun/Hyoyeon] Andai saja keputusan kita sama
[All/Yuri]pasti tidak akan ada penyesalan


[All] Bila mesin waktu bisa kutemukan
[Taeyeon] aku nanti ingin sekali
[Seohyun] bertemu dengan kamu lagi
[All] aku takkan meminta lebih
[Sunny] sebelum semua menjadi sekilas kenangan
[Taeyeon] Sebelum kenangan kita terlupakan
[Tiffany] B'rikan ku mesin waktu


Selasa, 18 September 2012

futari nin no omoide wasure teshimau mae ni (before the memories of us are forgotten) part II


Aku mencintai hatiku lebih dari yang banyak orang tahu. Aku menyelimuti hatiku dengan selubung tipis. Aku berjaga agar hatiku tidak tergores.
Kau bilang hatiku bagaikan permata. Kau salah. Hatiku ini adalah batu pualam. Dan takkan ku biarkan satu tangan pun membuatnya hancur.
Namun batu pualam ini tetap saja retak. Retakan halus yang kian lama membesar.

Mimpi itu, sebuah mimpi yang sama. Mimpi yang selalu Mey alami jika pada malam sebelumnya mamanya menelpon. Mey terbangun dari tidurnya bahkan jauh dari waktunya jam weker berbunyi. Dikuceknya kedua matanya malas. Tangannya menggosok wajahnya pelan. Bayangan kejadian lima tahun lalu terlintas kembali. Alasan ia pergi meninggalkan kampong halamannya dan menjejakkan kakinya di ibukota saat itu.
Mey menoleh melihat jam wekkernya, waktu masih menunjukan pukul 4 pagi. Ia menggambrukkan kembali badannya. Matanya berusaha keras untuk terpejam kembali, tapi ternyata itu adalah hal yang mustahil. Tubuh mungilnya terasa sakit, mungkin ia sudah terlalu lelah menanggung rasa sakit yang membuat tubuhnya tidak dapat rileks. Mey memutuskan untuk melakukan kegiatan rutin hanya dengan kondisi lebih pagi.
Hari ini hari sabtu, Mey mengeluarkan sepedah dan mengayuhnya ke taman yang berjarak 2 km dari apartemennya. Di taman ia melihat banyak keluarga atau pasangan-pasangan kekasih sedang menghabiskan weekend paginya di taman. Mey menghentikan sepedahnya di pinggir sebuah kolam dan menerawang jauh.
Limabelas menit Mey hanya diam. Di dalam kepalanya terlintas bayangan-bayangan masa lalunya. Aku pasti pernah seperti mereka. Aku pasti pernah bahagia. Dengan keluargaku. Dulu. Ponsel dalam sakunya bergetar. Mey tetap diam. Getaran itu terasa lebih lama. Getaran dari ponsel dalam sakunya itu akhirnya memenangkan perhatiannya.
“Halo, selamat pagi dengan Ijuuin Mei Lin?”tanya sebuah suara berat dari seberang.
“Pagi, ya saya Mei Lin. Ada apa ya?” jawab Mey formal. Sepagi ini? Pria dewasa? Siapa? Ada yang aneh.
“Ijuuin-san, saya Saejima Kenji. Informasi yang dibutuhkan sudah kami krim ke email anda…………,” kata-kata pemilik suara dari seberang tidak lagi Mey dengarkan secara seksama. Mata sipit Mey tampak membulat. Ia tampak hanya mengangguk-angguk mendengar apa yang di katakan orang dari seberang telpon itu. Setelah mengucapkan terimakasih, Mey menutup telponnya dan segera pulang.
Di rumah Minori tampak bingung melihat kondisi sahabatnya. Semenjak pulang dari bersepedah pagi Mey tampak murung, apalagi ia pulang ke apartemennya dengan mata berkaca-kaca. Jika hal ini terjadi Minori juga tidak berani ambil resiko.
Agak kesal dengan kondisi teman serumahnya, akhirnya Minori memberanikan diri mengetuk kamar Mey. Dalam hati Minori berdoa agar ia tidak terkena damprat. Mengetuk pelan, sesaat kemudian pintu terbuka. Tidak ada siapa-siapa di balik pintu, terlihat Mey duduk di tepi tempat tidurnya.
“Alamat rumah papaku sudah ditemukan. Apa yang harus ku lakukan?” kata Mey tiba-tiba. Mungkin itu adalah kata-kata pertama yang ia ucapkan sepulang dari bersepedah pagi ini. Mata Minori melebar, ia sekarang tahu dengan jelas, sebab dari sikap uring-uringan Mey pagi ini. Minori hanya bergumam, ia sendiri juga bingung. Situasi ini terlalu sulit untuk ia pecahkan. Karena bagaimanapun juga ia hanya pihak luar.
“Sore ini aku akan pergi, mencoba tak burukkan?” setelah lama terdiam Mey bicara lagi. Ia tahu menanyakan pendapat sahabatnyapun akan percuma. Minori hanya akan bingung. Yang ia ucapkan kali ini bukan pertanyaan tapi pernyataan.
Setelah meninggalkan Mey di kamarnya, Minori hanya diam di kamarnya. Situasi yang dihadapi sahabatnya sangat membuatnya sedih. Sudah terlalu banyak hal buruk yang dialami Mey disebabkan oleh pria yang akan ia temui sore ini. Tapi rasa penasaran dalam hati Mey tidak mungkin dapat ia bendung dengan alasan-alasan logis yang sering ia lontarkan sebelumnya. Minori hanya berharap hal yang terbaik akan terjadi dan sahabatnya bisa bahagia.
 Mey bersiap, ia mengenakan pakaian dan sepatu terbaiknya. Ia berdandan serapi mungkin. Setelah siap Mey keluar dari kamarnya dan mendekati kamar Minori. Ia menguk pintu kamar Minori, tapi tidak ada sahutan dari dalam kamar. Minori, kumohon jangan mengasihaniku ataupun bersedih untukku.
Menyerah pada pintu kamar Minori yang membisu, Mey berjalan keluar dan menuju halte bus terdekat dari apartemennya. Ia membaca kembali sekilas kertas di tangannya. Saat bus datang dan membawanya pergi, dalam hati Mey merasa takut bercampur bahagia. Ia memilih banyak kata-kata yang akan ia katakanya pada sang papa yang seumur hidupnya belum pernah ia lihat secara langsung. Mey membuka dompetnya melihat sebuah foto yang terselip di salah satu kantong. Foto sepasang manusia yang tersenyum dengan latar belakang kembang api. Inikah alasan mimpi itu datang lagi semalam.
(bersambung...)


Selasa, 11 September 2012

futari nin no omoide wasure teshimau mae ni (before the memories of us are forgotten) part I

Kringggg… … …, suara sebuah jam weker di meja dengan taplak renda merah jambu memecahkan keheningan pagi itu. Tangan yang malas menggapainya dengan lemah. Meleset. Sekali lagi mencoba untuk menggapai benda bulat dengan bunyi nyaring. Berhasil, jam weker kuning itu akhirnya diam.
Dengan perasaan yang ogah-ogahan Mey bangun dan dengan sekuat tenaga berusaha mengumpulkan lebih banyak nyawa. Mungkin baru jam 2 malam Mey tidur setelah sahabatnya mengoceh tentang pertengkarannya dengan sang pacar semalam. Mey duduk di tepi tempat tidur. Memulai pagi hari dengan doa pagi yang lupa-lupa ingat diucapkan. Semoga Tuhan di atas sana tahu maksud dari doa kacau Mey pagi ini. Melirik catatan kecil yang tertempel di meja dekat tempat tidur.

Harus dilakukan:
1.   Lipat selimut
2.   Tata tempat tidur
3.   Sisir rambut
4.   Ambil anduk
5.   Mandi

Mata masih berat untuk terbuka, diraih selimut pelindung dari dinginnya malam dan dilipat asal-asalan. Berdiri sejenak, terhuyung berusaha tidak roboh lagi ke tempat tidur yang nyaman. Dengan secepat mungkin Mey merapikan tempat tidur dan berjalan menuju meja rias di samping almari baju.
Sejenak memandangi cermin yang ada di hadapannya dan menyisir rambut. Kebiasaan yang tak akan pernah berubah. Jika tidak terlambat atau sedang terburu-buru karena ujian pasti Mey menyempatkan beberapa menit hilang di depan cermin ini. Menyisir rambut hitam lurus sepinggang menepuk kedua pipinya pelan sambil berkata lirih,” Hari ini pasti lebih baik dari hari kemarin, Mey faithing.”
“Huahhhhhh,” Mey menguap. Oksigen dalam paru-parunya memang belum terisi dengan baik. Berdiri dan dengan sekali sentakan tirai berwarna merah jambu terbuka. Cahaya matahari yang terang menembus masuk ke kamar ukuran 3x4m itu. Membuka jendela menghirup sebanyak mungkin udara pagi yang masih bisa dihirup. Apa jadwal hari ini.
Menyabet handuk yang di jemur miring di balik pintu kamar dan bergegas mandi. Terdengar sayup suara dari dalam kamar mandi. Suara nyanyian yang familiar di telinga Mey. Tumben pagi-pagi gini udah mandi.
“Minori, apa kamu ada kuliah pagi?” tanya Mey pada sang empunya suara yang terdengar dari kamar mandi. “Minori-san,” ulang nya sambil mengetok pintu kamar mandi. Mey melihat sekeliling apartemen kecil yang ia dan kawan masa kecilnya Minori tempati. Terlihat tumpukan piring dan gelas kotor yang belum sempat ia sentuh di bak cuci piring. Dengan malas Mey menyandarkan tubuhnya di tembok terdekat dan memerosotkan tubuhnya perlahan ke lantai. Kedua kakinya di tekuk dan kedua tangannya ditepukan pelan ke pipinya.
“Mey-mey, kamu sudah bangun? Ku kira kau masih tidur. Sepertinya kau tidur larut,” terdengar suara membuyarkan lamunan Mey pagi itu. Gadis yang terduduk di lantai itu menaikkan kepalanya menatap temannya yang telah selesai mandi. Tercium aroma sabun yang wangi dan aura hangat dari air panas yang digunakan.
“Apa kau ada kuliah pagi Minori-san?” kalimat tanya dibalas dengan kalimat tanya. Agak sulit berdiri. Dengan kaki yang sedikit kesemutan badan gadis itu hampir roboh. Minori yang melihat sahabatnya akan terjatuh, dengan sigap menangkap lengannya.
Kapan Mey bisa lebih berhati-hati. “Ya, nanti aku ada kuliah jam 9 pagi. Hati-hati, apa kakimu tak apa-apa?” Seulas senyum tipis tampak menghiasi wajah yang tampak segar sehabis mandi.
Mey hanya mengangguk dan mengambil handuknya yang terjatuh langsung bergegas masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, lagi-lagi Mey menyandarkan tubuhnya di pintu dan memerosotkannya hingga terduduk di lantai kamar mandi yang basah. Menutupi wajahnya yang oriental dengan kedua tangannya. Terdengar isak pelan di balik tangan. Suara isak itu teredam oleh gemericik air kran yang mulai memenuhi bak mandi. Mama. Mey menyebutkan orang yang ia rindukan.

Apa dia tak bosan membaca di sudut itu sendiri. Bodoh. Mana mungkin bosan, dia sedang membaca. Dan ini perpustakaan. Tertarik, mungkin itu adalah perasaan yang dialami oleh Mey akhir-akhir ini.
Seorang pemuda dengan usia sekitar 20 tahunan tampak sedang membaca di sudut perpustakaan. Wajahnya tampak serius melihat huruf-huruf yang ada di dalam buku yang sedang dibacanya. Mey melihatnya secara tersembunyi di balik rak-rak buku yang tinggi. Dia memakai kacamata, pasti karena suka baca buku. Keren.
Sekilas Mey pasti menyempatkan diri melihat pemuda yang menjadi perhatiannya dua minggu terakhir ini.  Walaupun tujuan utama Mey datang ke perpustakaan bukan untuk itu. Ia bukanlah tipe gadis yang menghabiskan waktunya hanya untuk hal yang tidak jelas. Seperti mencari perhatian pemuda di sekitarnya.
Pandangan Mey telah beralih ke sebuah buku tebal. Ia membaca sekilas judul yang ada di sampul buku berwarna biru tua itu. ‘Edulogy’. Tersirat walau hanya sesaat keraguan di wajah Mey. Sepertinya buku itu terlalu tebal. Satu halaman, dua halaman hingga halaman ke sebelas kemudian dengan cepat ia memnutup buku itu dan berjalan menuju petugas jaga perpustakaan.
Segera buku bersampul biru itu berpindah tangan. “Kartu mahasiswa,” kata petugas perpustakaan singkat. Mey menyodorkan kartu berwarna krem yang dihiasi dengan fotonya. “Saejima Mei Lin.” Hanya sebuah anggukkan singkat yang didapatkan petuas itu sebagai pengganti jawaban.
Dengan senyuman yang menghiasi wajannya tak lupa buku bersampul biru di tangannya, Mey melangkahkan kakinya ke ruang kuliahnya. Ruang dengan bangku yang berderet rapi itu masih tampak lenggang. Terdapat tiga anak perempuan di deretan bangku bagian tengah. Mey tersenyum menyapa. sambil meletakkan tasnya Mey memutar bolamatanya. Apa tidak ada pilihan baju lain yang bisa mereka pakai? Itu rok mini.
Tempat duduk yang selalu menjadi favorit Mey bukan di depan atau di balakang, tapi di bangku sebelah kiri kelas dimana terdapat jendela besar berderet. Di balik jendela kelas Mey di lantai dua itu dapat di lihat sebuah kolam Universitas Tokyo yang cukup besar dan bersih dengan sebuah pohon sakura yang menjadi pelengkap indahnya suasana. Apalagi jika musim bunga sakura mekar seperti saat ini.
Jam tangan yang melingkari tangan Mey telah menunjukan pukul 12 siang. Dosen menutup kuliah siang itu. Setelah membereskan barang bawaannnya Mey berjalan keluar melenggang menuju kolam kampusnya. Tak lupa buku yang baru dipinjamnya dari perpustakaan ia bawa dalam pelukannya.
Walaupun bunga sakura sedang mekar dengan indahnya, kolam kampus tetap tampak lenggang karena matahari siang itu tetap terik bersinar. Biasanya sekitar kolam dan pohon sakura akan sangat ramai saat hari menjelang senja, sekitar pukul 4 sore hari. Mey berjalan menuju tempat favoritnya membaca buku yaitu di bawah pohon sakura. Namun langkahnya terhenti, senyum di wajahnya sedikit memudar.
Mey melihat sepasang kaki menyembul dari balik pohon sakura. Ada yang sudah menempati daerah favoritnya. Ia memiringkan tubuhnya berusaha melihat orang yang berteduh di bawah pohon sakura. Seorang pemuda yang tertidur dengan buku yang menutupi wajahnya. Baju kotak-kotak ini. Mey melihat baju yang dipakai pemuda itu tampak familiar di matanya. Pemuda itu adalah pemuda yang ia lihat di perpustakaan. Untuk kali ini tak apa lah, aku mengalah. Tapi tidak utuk lain kali. Mey pun berjalan menjauhi kolam, menuju kantin.
Siang ini tetap seperti siang-siang sebelumnya dan kondisi kantin tetap seperti kantin-kantin pada umumnya sangat ramai. Keramaian adalah suasana yang sangat Mey benci. Buku di yang sebelumnya ada dalam pelukannya berpindah ke dalam tasnya yang aman. Matanya tampak melihat sekeliling, ia tampak mencari seseorang.
Sekelompok gadis di meja tengah melambaikan tangan pada Mey. “Mei Lin,” seru salah seorang. Melihat orang yang ia cari, Mey langsung berjalan cepat menghampiri teman serumahnya itu.
“Holla,” sapa Mey singkat sambil mencomot drumstick yang ada di piring temannya. Dua orang menggeser duduknya, memberi sebuah jeda yang cukup untuknya duduk.
“Aku kaget, biasanya kau jadi hantu penunggu pohon sakura jika jam-jam segini,” kata Minori dengan wajah yang agak bingung. Mey menjawab pertanyaan temannya itu hanya dengan tersenyum, terlintas dalam benaknya alasan ia meninggalkan pohon sakuranya sambil mengeluarkan kotak makan yang telah ia persiapkan tadi pagi.
Jika sahabatnya yang satu ini hanya menjawab pertanyaan dengan tersenyum seperti saat ini, Minori sudah tahu walaupun dipaksa Mey tidak akan menjawab. Jawaban Mey hanya akan menjadi rahasianya sendiri. Ayam bumbu teriyaki adalah menu makan siang Mey hari ini. Walau tak seenak rasa masakan ibunya, Mey cukup percaya diri untuk memasak.

(bersambung...)